logo

Desa Cimenga

Jalan Raya Cipasung - Selajambe No 201 RT 002 RW 001 Desa Cimenga 45562
Telp. Email : [email protected]

MENJAGA NYALA TRADISI : Ritual Babarit Desa Cimenga, Rayakan Syukur Hasil Bumi hingga Gelora Seni Golewang

74
25 Jun 2026
Admin Desa Cimenga
logo

Hari ini, Senin, 22 Juni 2026, Desa Cimenga menggelar hajat tahunan yang teramat sakral: Upacara Adat Babarit Desa. Sebuah tradisi turun-temurun masyarakat agraris Sunda sebagai refleksi pembersihan diri, tolak bala, sekaligus penegasan komitmen komunal dalam melestarikan kebudayaan lokal di tengah derasnya arus modernisasi abad ke-21.

Rangkaian acara yang sarat akan nilai spiritual, historis, dan estetika ini berlangsung secara maraton sejak pagi hingga petang. Untuk memberikan gambaran utuh mengenai jalannya upacara adat ini, berikut adalah kronik waktu pelaksanaan Babarit Desa Cimenga 2026:

1. Getar Spiritual di Aula Balai Desa: Doa Bersama yang Menyatukan Niat

Tepat pukul 08.00 WIB, Aula Balai Desa Cimenga telah dipenuhi oleh ratusan warga, perwakilan tokoh adat, sesepuh, serta unsur Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Darma. Di bagian depan ruangan, dikelilingi oleh ancak—anyaman bambu tradisional yang berisi aneka macam hasil bumi seperti umbi-umbian, pisang raja, kelapa muda, dan dedaunan khusus sebagai simbol keseimbangan alam.

Acara dibuka dengan pembacaan doa pegiat budaya setempat, sebuah doa pembuka ini berfungsi meminta izin kepada Sang Pencipta dan menghormati para leluhur agar acara berjalan lancar. Suasana semakin bergetar saat lantunan ayat-ayat suci Al Quran dan kalimat zikir mulai menggema di dalam aula. Harmonisasi antara nilai religiusitas Islam dan adat lokal menjadi bukti nyata betapa dewasanya masyarakat Cimenga dalam merawat sinkretisme budaya yang damai.

"Babarit ini esensinya adalah ngabersihan rit, artinya membersihkan segala hal buruk yang melekat pada diri kita dan wilayah desa. Kita berdoa agar tanah kita tetap subur, air tetap mengalir jernih, dan masyarakatnya dijauhkan dari segala macam pertikaian," ujar Kepala Desa Cimenga, Nana Rukmana, dalam pidato pembukanya yang disambut anggukan khusyuk dari para hadirin.

2. Penyembelihan Kambing: Manifes Syukur Atas Kelimpahan Agraris

Masih dalam kesatuan waktu ritual pagi sebelum pukul 10.00 WIB, prosesi bergeser ke area halaman depan balai desa untuk melaksanakan salah satu inti dari Babarit kali ini: pemotongan kambing. Berbeda dengan kurban Iduladha, penyembelihan kambing dalam tradisi Babarit Desa Cimenga ini merupakan bentuk sedekah bumi khusus yang anggarannya digalang secara swadaya oleh masyarakat sebagai wujud syukur konkret atas hasil panen raya yang melimpah selama satu tahun terakhir.

Kambing yang dipilih bukan sembarang kambing, melainkan kambing jantan sehat berbulu mulus tanpa cacat fisik. Sebelum disembelih, kambing ini secara simbolis diberi makan dedaunan hijau terlebih dahulu oleh sesepuh adat didampingi oleh kepala desa.

Prosesi penyembelihan dilakukan oleh pemuka agama desa dengan iringan selawat yang menggetarkan hati. Darah kambing yang mengalir ke tanah secara simbolis diartikan sebagai pengembalian energi kehidupan ke bumi yang telah memberi mereka makan. Nantinya, daging kambing ini langsung diolah secara gotong-royong oleh kaum perempuan untuk dimasak menjadi hidangan khas (bebecek), yang kemudian dibagikan kembali kepada seluruh warga dalam sesi makan bersama (bancakan).

"Tahun ini hasil panen padi, cengkih, dan kopi di lereng Cimenga sangat bagus. Penyembelihan kambing ini adalah cara kami berkata terima kasih kepada bumi dan Gusti Allah. Kami tidak ingin serakah; apa yang didapat dari tanah, sebagian harus dikembalikan manfaatnya untuk kesejahteraan sesama warga," kata Abah Kasdi (74), salah satu tetua adat dengan mata berkaca-kaca menahan haru.

3. Menjejak Langkah Masa Lalu: Ziarah Khidmat ke Makam Pendiri Kampung

Setelah seluruh prosesi di balai desa rampung tepat pada pukul 10.00 WIB, suasana berubah menjadi hening dan penuh takzim. Rombongan warga mulai membentuk barisan panjang, berjalan kaki secara tertib menuju kompleks pemakaman kramat para leluhur pendiri kampung (ngababakan lembur) Desa Cimenga.

Dalam tradisi lisan setempat, para sesepuh inilah yang berabad-abad lalu membabat hutan belantara, menata sistem irigasi, dan mendirikan fondasi sosial pemukiman yang kini menjadi Desa Cimenga. Ziarah kubur ini dipimpin oleh para pemegang urus adat dan pemuka agama setempat.

Lantunan doa Yasin, tahlil, dan doa keselamatan dipanjatkan bersama dalam durasi hampir satu jam. Udara pegunungan yang sejuk mendadak riuh oleh bisikan doa. Ritual ini menjadi media edukasi sejarah yang sangat efektif bagi generasi penerus agar mereka tidak kehilangan obor silsilah asalnya.

4. Gemuruh Sore di Halaman Kantor Pemerintah Desa: Eksotika dan Filosofi Pesta Adat Golewang

Setelah jeda istirahat siang, denyut perayaan Babarit mencapai puncak estetika tertingginya pada sore hari. Mulai pukul 16.30 WIB hingga menjelang Magrib pukul 17.30 WIB, halaman Kantor Pemerintah Desa Cimenga berubah menjadi lautan manusia. Ratusan pasang mata, baik masyarakat setempat dan warga masyarakat desa yang berbatasan langsung dengan Desa Cimenga, berkumpul melingkari area pertunjukan luar ruangan untuk menyaksikan Pesta Adat Budaya Golewang.

Golewang adalah kesenian tari (ibing) dan musik tradisional asli dan sangat khas dari wilayah ini yang disebut tayub. Ada lima lagu yang harus di-kawih-kan oleh sinden atau juru kawih, salah satunya tembang berjudul Sang Golewang. Begitu instrumen musik gesek rebab atau lengek dan tabuhan kendang bertalu-talu memecah kesunyian sore, para penari Golewang langsung melesat ke tengah arena. Atmosfer magis kian terasa ketika para penari mulai berinteraksi dengan penonton. Dalam ritual penutup Golewang, perwakilan pejabat desa, sesepuh, dan perwakilan pemuda diajak masuk ke arena untuk menari bersama (ngibing). Di momen inilah semua batasan sosial melebur menjadi satu. Pertunjukan berakhir tepat pukul 17.30 WIB bersamaan dengan turunnya matahari di ufuk barat dan selesainya prosesi mengantar “tamu” pulang.

5. Babarit Desa: Kompas Moral dan Benteng Kebudayaan pada Era Digital

Pelaksanaan Babarit Desa di Desa Cimenga pada tahun 2026 difasilitasi pembiayaannya oleh Pemerintah Desa Cimenga yang bersumber dari Dana Desa dan swadaya masyarakat ini memberikan sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah kearifan budaya lokal merespons modernitas. Pada era ketika kecerdasan buatan, digitalisasi, dan budaya pop global mengepung keseharian generasi muda melalui layar gawai mereka, Babarit terbukti mampu menjadi jangkar kultural yang kuat agar masyarakat tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Tradisi budaya lokal ini menegaskan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan identitas lokal. Melalui Babarit, masyarakat desa dilibatkan secara aktif, menjadikannya bukan sekadar penonton pasif, melainkan pelaku utama pelestarian budaya.

Enjen (44), seorang pelaku budaya asal Desa Cimenga yang sore itu sibuk mengatur  pertunjukan Golewang, menuturkan pandangannya dengan penuh rasa bangga.

"Bagi generasi kami, Babarit dan Golewang ini bukan hal mistis yang kuno. Ini adalah seni tingkat tinggi, identitas visual kami, dan kebanggaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang kota. Lewat gawai, kami justru ingin memamerkan ke dunia luar betapa kerennya budaya asli Desa Cimenga," tutur Enjen penuh semangat.

Sebelum azan Magrib berkumandang dari masjid desa, selesailah sudah gelaran agung Babarit Desa Cimenga tahun 2026. Acara ini sukses mengirimkan pesan kuat ke seluruh masyarakat: bahwa bumi harus dirawat, syukur harus dipanjatkan, dan sejarah harus terus diingat agar kehidupan berjalan selaras dengan alam dan rida Sang Pencipta. (Pdi)

 

Hubungi Kami

logo

Cimenga

Jalan Raya Cipasung - Selajambe No 201 RT 002 RW 001 Desa Cimenga Darma

Lokasi Balai Desa

Portal Resmi Sistem Informasi Pemerintahan Desa Kelurahan Terpadu
Desa Cimenga, Kec. Darma, Kab. Kuningan, Prov. Jawa Barat

SIPDeskel © 2025

V24.12.1.1